jump to navigation

Sebuah Refleksi, Periksa dan Berobatlah Wahai Ikhwah May 16, 2014

Posted by haniki in ilmu.
Tags: , , , , , , , , ,
trackback

Ahad kemarin (11/05/14), kami mensholatkan jenazah seorang ummahat yang meninggal karena ada masalah dalam kehamilannya..

Besoknya, akhuna dr. Didit menulis artikel berikut:

Menyaksikan jasad yang terbujur kaku di atas meja, berselimutkan kain kafan dan lembaran ‘jarik’ telah membuat saya ingat beberapa kejadian yang telah berlalu…

Masih terasa lekat dalam ingatan, saat saya harus menemani istri melahirkan anak kelima di sebuah rumah sakit..

Sebenarnya saya ingin membantunya melahirkan di rumah, namun apa daya –qoddarulloh– kepala janin tak segera turun.

Singkat cerita saya memohon untuk bisa menemaninya di ruangan VK (Ruang Bersalin).

Rasanya kepala ini makin pening dan melayang…,

badan telah begitu lelah…,

dan mata begitu berat menahan kantuk…

Sedari pagi hingga dini hari jasad ini harus terjaga…

Hampir setiap tiga menit, istri menggenggam kuat jemari tangan saya seraya berguncang sekujur tubuhnya menahan sakitnya cengkraman otot-otot rahim.

Berkali-kali berdebar kuat jantung ini saat dokter memberi ultimatum akan mengoperasinya, bila ternyata saat shubuh janin di dalam rahimnya tak segera lahir.

Saya mulai bertanya pada diri sendiri tentang kematian saat melahirkan… Saya berusaha menyemangatinya untuk senantiasa berisitighfar…

Alhamdulillah, di waktu yang Alloh mudahkan terkabulnya doa, anak laki-laki saya lahir.

Lebih dari dua windu yang lalu, saya berkali-kali tergelitik oleh sebuah iklan layanan masyarakat.

Dalam iklan berdurasi singkat tersebut, seorang pria tampak mesra dengan seorang wanita yang tengah hamil.

Iklan yang diinisiasi pemerintah melalui Menteri Urusan Peranan Wanita itu tampaknya ingin menyentuh dengan halus peran seorang suami kala menemani kehamilan sang istri.

Bagaimana perhatian seorang suami yang lelah setelah bekerja harus disisihkan untuk ‘permaisuri’-nya, hingga detik-detik menegangkan menunggu sang istri mengejan, berkutat bertaruh nyawa untuk melahirkan sang jabang bayi.

Siaga akronim dari Siap Antar Jaga, merupakan kampanye Pemerintah yang diangkat melalui iklan layanan masyarakat tersebut.

Seandainya kita tidak butuh iklan tersebut, tentu tak berlebihan kiranya jika kita mengikuti sebaik-baik salaf.

Rasululloh adalah sebaik-baik manusia, teladan dan panutan berbuat baik kepada keluarga.

Beberapa waktu lalu, datang seorang wanita ke rumah kami untuk melahirkan.

Rasanya agak mengganjal di hati, karena wanita tersebut belum pernah periksa kepada kami.
Dalam keadaan kami tidak tahu riwayat kehamilannya, kapan perkiraan lahirnya, berapa usia kehamilannya, anak ke berapa, berapa berat janinnya, riwayat sakit si ibu, sudah periksa dimana, bila sudah periksa bagaimana hasilnya,

dan…
dan…

segudang pertanyaan yang harus kami simpan di locker hati ini.

Kali ini bukan pertama kali kami menghadapi keadaan semacam ini.

Hanya saja, boleh saja kami berharap…
Bukankah lebih nyaman bila berbagai pertanyaan itu terjawab, tatkala sebelumnya sudah pernah periksa dan ada riwayat catatannya

Meskipun kami akan katakan,

“Mohon maaf, kami tidak bisa bantu karena…”, setidaknya kami berusaha memberikan saran yang bisa dilakukan.

Tulisan ini sama sekali tidak saya maksudkan untuk menyalahkan.

Tidak…

Ini adalah refleksi, betapa kadang saya melihat Salafiyin, kadangkala melewatkan hal-hal yang sederhana semacam ini.

Periksa …

Ya, periksakan kehamilan istri…

Bila tidak ada masalah, cukup periksa sebulan sekali.

Berapa tekanan darah ibu, apakah kaki ibu bengkak tidak, bagaimana posisi janin, berapa ukuran kepala janin, bagaimana kecepatan detak jantung janin, ketubannya ‘rembes’ tidak, panggul ibu sempit tidak, dan masih banyak data penting yang harus digali oleh tenaga medis…

Tulisan ini sama sekali tidak untuk menyalahkan takdir. Semoga bermanfaat sebagai cermin diri kita… Allohua’laam.

Ditulis oleh: Akhuna dr. Didit Aktono Hadi (anggota grup Tim Medis Salafy)

**NB: istri beliau adalah seorang bidan.

WA Tim Medis Salafy :: Dikutip dari grup Ittiba’us Sunnah 1.

Sumber : WA Berbagi Faidah

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: