jump to navigation

Hati-hati dengan Cottonbud dan Terapi Lilin November 5, 2009

Posted by haniki in ilmu.
Tags: , , , , , ,
trackback

Banyak masalah pendengaran muncul karena perawatan telinga dan terapi yang tidak perlu. Di masa kecil siapa yang tidak kenal permainan pesan berantai. Permainan yang dilakukan dengan membisikkan pesan dari orang ke orang ini jenaka karena pesan yang sampai pada orang terakhir bisa sangat berbeda dari awalnya.

Mereka yang salah menyampaikan pesan akan diejek soal pendengarannya. Meski sebenarnya konsentrasi yang jadi inti permainan ini, bisa dijadikan gambaran sederhana pentingnya fungsi pendengaran. Dalam pergaulan sosial, kita pun jadi orang yang mengesalkan karena seperti tidak pandai menyimak. Gangguan pendengaran ini bukan hanya milik lansia. Pasalnya, gangguan pendengaran banyak disebabkan gaya hidup.

“Gangguan pendengaran bisa disebabkan kotoran telinga yang menumpuk sehingga liang telinga tertutup hingga suara tidak dapat masuk,” kata dokter spesialis telinga hidung dan tenggorokan Dr Sosialisman Sp THT, di Jakarta.

Bukankah kotoran merupakan hal yang umum dan harus dibersihkan? Di sisi lain, berada di dalam organ tersembunyi, kotoran telinga ini tentunya sulit diperiksa sendiri.

Kotoran yang menumpuk dan menyebabkan gangguan umumnya dicetus kebiasaan tertentu. “Saat kita berusaha membersihkan telinga dengan cottonbud, earwax yang terjadi kotoran akan terdorong ke dalam dan jadi tergumpal,” kata Dr Rob Hicks di laman daring Bbc.co.uk.

Lebih lanjut dijelaskan di daring kesehatan Earscience.org.au, telinga sebenarnya menghasilkan cerumen (earwax) secara alamiah. Cerumen berfungsi menghalau air, menangkis debu, dan kotoran termasuk serangga untuk masuk ke bagian dalam telinga.
“Secara alamiah cerumen akan mengering dan jatuh ke luar kuping dengan sendirinya,” kata Sosialisman.

Namun, bisa pula produksi cerumen berlebih dan menjadi keras. Dalam kondisi ini pun tidak disarankan menggunakan cottonbud. Pasalnya, karena alasan tadi, kotoran bisa terdorong menutupi kanal hingga pendengaran terganggu.

Dalam penelitian Dr Suresh Kumar dari Pakistan pada 2007, dari 100 pengguna rutin cottonbud yang diteliti, 34 orang menderita gatal di telinga yang tidak biasa, 23 orang mengalami infeksi otitis externa, 15 infeksi karena jamur, 9 luka di sekitar kanal luar, dan 6 orang mengalami penurunan pendengaran.

Dalam penelitian yang diterbitkan Jurnal of Surgery Pakistan, pada September 2009 ini disebutkan pula tidak ada perbedaan yang signifikan antara kualitas earwax orang yang menggunakan cottonbud dan yang tidak.

Cottonbud itu sendiri pun berpotensi membuat luka. “Penggunaan yang kasar akan menimbulkan infeksi,” kata Sosialisman yang juga Ketua Perhimpunan Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan wilayah Jakarta (Perhati Jaya) ini.

Waspadai terapi lilin atau ear candling yang beberapa waktu lalu dianggap sebagai alternatif dalam pengobatan gangguan pendengaran nyatanya juga tidak aman. “Saya tidak pernah merekomendasikan terapi lilin untuk mengatasi gangguan pendengaran,” ujar Sosialisman yang berpraktek di RS Pantai Indah Kapuk, Jakarta, ini.

Metode terapi lilin yakni menggunakan lilin berdiameter kecil memiliki kandungan beeswax atau parafin.
Prosedurnya, lilin yang telah `dibakar’ diletakkan dalam liang telinga. Untuk mempertahankan lubang di puncak lilin selalu terbuka, digunakan alat semacam tusuk gigi.

Setelah itu, sebongkah kapas padat digunakan untuk membersihkan kotoran telinga yang nampak. Beberapa terapis menggunakan minyak telinga ear oil untuk membersihkannya. Namun, Sosialisman berpendapat kotoran yang didapat itu sebenarnya merupakan lilin dari terapi itu sendiri.

Dengan demikian, terapi ini dipertanyakan karena banyak pasien yang mengalami gangguan setelahnya.
“Saya pernah menangani kasus, telinga mengalami kemerahan setelah menjalani terapi lilin,” ujar Sosialisman.

Bahkan sebuah pendataan oleh 144 dokter THT menemukan kasus akibat terapi lilin. Setidaknya ada 13 luka bakar, 7 kasus liang telinga yang tersumbat karena lelehan lilin, dan 1 kasus gendang telinga yang rusak atau bolong (perforated).

Terapi lilin berpotensi merusak gendang telinga karena untuk menarik lilin keluar membutuhkan tekanan yang kuat. “Karena wax bersifat lengket, untuk menariknya keluar butuh tekanan kuat sehingga berpotensi merusak gendang telinga,” tukasnya.

Selain karena cottonbud dan terapi lilin, gangguan pendengaran bisa disebabkan suara bising dan konsumsi obat. Seperti dijelaskan daring kesehatan http://www.nidcd.nih.gov, paparan suara keras dapat mengganggu struktur sel rambut yang ada di dalam telinga.

Padahal rambut-rambut ini berfungsi mengubah gelombang suara menjadi sinyal elektrik ke otak. Rusaknya sel-sel rambut ini akan sulit sekali diperbaiki. Sementara itu, dosis obat yang terlalu tinggi dapat mengganggu sistem syaraf tertentu pada indera pendengaran.

Sumber:
http://kautsarku.wordpress.com/2009/10/19/httpkautsarku-wordpress-com20091019jangan-korek-telingamu/

Comments»

1. NUREL - November 17, 2009

Jadi gimana dong mestinya? Apa cara yang aman untuk mengembalikan pendengaran kita?
Saya gadis 19 thn yang ahir ahir ini kurang bisa menangkap pembicaraan dg baik. Entah karena kurang konsentrasi atau kurang pendengaran. Yg jelas saya sering pusing, tegang otot leher dan punggung.

arif aja deh - November 17, 2009

sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter THT terdekat..
semoga Allah memberikan kesembuhan..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: