jump to navigation

Berhukum Kepada Selain Syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala (3) September 25, 2009

Posted by haniki in ilmu.
Tags: , , , , , ,
trackback

Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Pertanyaan :
Bagaimana hukum terhadap orang yang berhukum kepada selain hukum Allah subhanahu wata’ala?

Jawaban :
Sesungguhnya berhukum kepada hukum Allah subhanahu wata’ala termasuk dalam kategori tauhid rububiyyah karena ia merupakan pelaksanaan terhadap hukum Allah subhanahu wata’ala yang merupakan inti kerububiyyah¬an-Nya, kesempurnaan kekuasaan, dan kewenangan (hak berbuat)-Nya. Karenanya, Allah subhanahu wata’ala menamai orang-orang yang perintahnya diikuti di dalam berhukum -kepada selain hukum Allah- sebagai “Arbab” (rab-rab) bagi orang yang mengikuti mereka sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

”Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rab-rab selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah sesembahan Yang Maha Esa; tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (At Taubah: 31)

Dalam ayat tersebut, Allah subhanahu wata’ala menamai orang-orang yang perintahnya diikuti di dalam berhukum kepada selain hukum Allah sebagai ”Arbab” karena mereka dinobatkan sebagai para pembuat syariat di samping Allah subhanahu wata’ala. Allah juga menamai para pengikut mereka dengan ”Ibad” (para hamba) karena mereka tunduk dan mematuhi perintahnya (para panutan di dalam menentang hukum Allah subhanahu wata’ala.

’Ady bin Hatim radhiyallahu ’anhu pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, ”Sesungguhnya mereka (para pengikut) tidak menyembah mereka (para pembuat syariat selain Allah subhanahu wata’ala).” Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

”Tidak demikian, sesungguhnya mereka (arbab itu) telah mengharamkan kepada mereka (pengikutnya) sesuatu yang halal, dan mengharamkan bagi mereka sesuatu yang halal lalu mereka mengikuti mereka, itulah bentuk ibadah mereka terhadap mereka (arbab itu).”

Bila anda telah memahami hal ini, maka perlu anda ketahui pula bahwa orang yang tidak berhukum kepada hukum Allah subhanahu wata’ala dan ingin agar putusan hukum diserahkan kepada selain Allah subhanahu wata’ala dan rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam, terkait dengan hal ini ada beberapa ayat yang menafikan (meniadakan) iman orang tersebut dan memvonisnya dengan hukum kafir, zalim, dan fasik.

Adapun bagian pertama (yakni ayat-ayat yang menafikan imannya), adalah seperti firman Allah subhanahu wata’ala,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا * وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا * فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا * أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلا بَلِيغًا * وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا * فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

”Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu, berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya, jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An Nisa’: 60-65)

Dalam ayat tersebut, Allah subhanahu wata’ala menyebutkan beberapa sifat terhadap orang-orang yang mengklaim beriman padahal mereka itu adalah orang-orang munafik, di antaranya:

Pertama, bahwa mereka ingin menyerahkan putusan hukum kepada thaghut (segala sesuatu yang melampaui hukum-hukum Allah subhanahu wata’ala, -pen.); yakni setiap hal yang bertentangan dengan hukum Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya sebab apa saja yang bertentangan dengan hukum Allah dan Rasul-Nya, maka ia adalah melampaui batas dan melawan hukum Allah subhanahu wata’ala, Pemilik Hukum dan kembalinya segala sesuatu kepada-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

ِ أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

”Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” (Al A’raf: 54).

Kedua, bahwa bila mereka diajak untuk berhukum kepada hukum Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, mereka menghalang-halangi dan berpaling.

Ketiga, bahwa bila mereka ditimpa oleh suatu musibah akibat ulah tangan mereka sendiri, di antaranya dipergokinya perbuatan mereka; mereka datang sembari bersumpah bahwa yang mereka inginkan hanyalah untuk maksud baik dan beradaptasi (dengan situasi dan kondisi) seperti halnya orang-orang dewasa ini yang menolak hukum-hukum Islam dan berhukum kepada undang-undang yang menyelisihinya dan menganggap bahwa hal itu adalah bentuk berbuat baik yang selaras dengan perkembangan zaman.

Lalu dalam ayat tersebut, Allah subhanahu wata’ala memperingatkan mereka yang mengklaim beriman tadi dan memiliki beberapa sifat tersebut di atas bahwa Dia Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka dan apa yang mereka simpan terkait dengan hal-hal yang bertentangan dengan apa yang mereka ucapkan. Allah subhanahu wata’ala juga memerintahkan Nabi-Nya agar menasihat mereka dan berkata tentang diri mereka dengan perkataan yang tegas (menyentuh hati).

Kemudian Allah subhanahu wata’ala menjelaskan bahwa hikmah dari diutusnya seorang Rasul adalah agar dia yang ditaati dan diikuti, bukan manusia selainnya, meskipun –yang selainnya ini- otaknya prima dan wawasannya luas. Setelah itu, Allah subhanahu wata’ala bersumpah melalui kerububiyyahan-Nya untuk Rasul-Nya, di mana ini merupakan salah satu jenis rububiyyah-Nya yang paling khusus dan mengandung isyarat akan kebenaran risalah beliau. Allah bersumpah dengan hal itu sebagai penegasan bahwa iman seseorang tidak akan benar kecuali memenuhi tiga hal:

Pertama, menyerahkan putusan hukum dalam berbagai perselisihan kepada Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam.

Kedua, berlapang dada terhadap putusan beliau dan tidak boleh ada perasaan tidak puas dan sesak dalam dirinya.

Ketiga, adanya penyerahan diri secara total dengan cara menerima putusan hukum yang beliau berikan dan melaksanakannya tanpa ditunda-tunda atau menyembunyikannya.

Sedangkan bagian ke dua (yakni ayat-ayat yang memvonis kafir, zalim, dan fasik terhadap orang tersebut, -pen) adalah seperti firman Allah subhanahu wata’ala,

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

”Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al Maidah: 44)

Juga firman-Nya,

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

”Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (Al Maidah: 45)

Serta firman-Nya,

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

”Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (Al Maidah: 47)

Dalam hal ini, apakah ketiga sifat tersebut dialamatkan kepada satu orang saja? Dalam artian, bahwa tiap orang yang tidak berhukum kepada hukum Allah subhanahu wata’ala maka dia kafir, zalim, dan fasik? Sebab Allah subhanahu wata’ala memberikan sifat kepada orang-orang kafir sebagai orang-orang yang zalim dan fasik, sebagaimana firman-Nya,

وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

”Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.”(Al Baqarah: 254)

Dan firman-Nya,

وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

“Sesungguhnya mereka Telah kafir kepada Allah dan rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (At Taubah: 84)

Maka kemudian, apakah setiap orang yang kafir adalah juga zalim dan fasik? Ataukah sifat-sifat tersebut dialamatkan kepada dua orang berdasarkan alasan mereka enggan berhukum kepada hukum Allah? Pendapat terakhir inilah menurut saya, pendapat yang paling mendekati kebenaran. Wallahu a’lam.

Kami tegaskan, barangsiapa yang tidak berhukum kepada hukum Allah karena meremehkan, mengejeknya atau meyakini bahwa selainnya adalah lebih cocok dan bermanfaat bagi makhluk, maka dia telah kafir yang mengeluarkan dirinya dari agama ini. Di kalangan orang-orang seperti ini, ada yang membuat undang-undang yang bertentangan dengan syariat Islam sebagai manhaj yang harus dijalani manusia. Tentunya, mereka tidak melakukan hal itu kecuali disertai keyakinan bahwa ia lebih cocok dan bermanfaat bagi makhluk, sebab termasuk hal yang patut diketahui secara akal dan fithrah bahwa manusia tidak akan berpaling dari suatu manhaj ke manhaj lain yang bertentangan, kecuali dia memang meyakini kelebihan manhaj yang lain tersebut dan kelemahan manhaj sebelumnya.

Orang yang tidak berhukum kepada hukum Allah, sedangkan dia tidak meremehkan dan mengejeknya serta tidak meyakini bahwa selainnya lebih cocok dan bermanfaat bagi makhluk, hanya saja dia berhukum kepada selain hukum-Nya dalam rangka ingin mengerjai terpidana karena balas dendan pribadi terhadap atau alasan lainnya; maka dia adalah orang yang zalim bukan kafir. Sementara tingkatan kezaliman berbeda-beda tergantung kepada kondisi terpidana dan perangkat hukumnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah –berkenaan dengan orang yang menjadikan para pendeta dan rahib mereka sebagai Rab selain Allah subhanahu wata’ala- menyatakan bahwa mereka ini terbagi kepada dua kategori:

Pertama, mereka mengetahui bahwa para penguasa telah mengganti agama Allah namun mereka tetap mengikuti dan meyakini kehalalan sesuatu yang sebenarnya telah diharamkan Allah subhanahu wata’ala dan keharaman sesuatu yang telah dihalalkan oleh-Nya karena mengikuti para pemimpin tersebut padahal mereka mengetahui betul bahwa hal itu menyalahi agama para Rasul. Ini hukumnya kafir yang Allah dan Rasul-Nya telah menjadikannya sebagai kesyirikan.

Kedua, keyakinan dan keimanan mereka terhadap kehalalan sesuatu yang sebenarnya haram dan keharaman sesuatu yang sebenarnya halal –demikian ungkapan asli yang dinukil dari Syaikhul Islam- Memang demikian adanya, namun mereka menaati mereka (para pemimpin mereka) di dalam hal maksiat kepada Allah subhanahu wata’ala, sama seperti tindakan seorang muslim ketika melakukan perbuatan maksiat bahwa ia hanya meyakininya sebagai perbuatan maksiat; maka mereka itu hukumnya seperti hukum para pelaku dosa semisal mereka.

Sumber: Kumpulan Fatwa Aqidah Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 208-212
(Dinukil untuk blog http://ulamasunnah.wordpress.com dari Fatwa-fatwa Ulama Kontemporer Bagian 2, Pustaka Al Qabail)

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: