jump to navigation

Mengupas Infertilitas September 6, 2009

Posted by haniki in ilmu.
Tags: , , , , , ,
trackback

DEFINISI :
– dalam 1 tahun melakukan hubungan sexual intercourse namun tidak terjadi kehamilan.
– pasangan usia subur yang menikah selama 1 tahun dan melakukan hubungan sexual intercourse secara teratur tetapi tidak terjadi kehamilan, dimana pasangan tersebut tidak menggunakan alat kontrasepsi.

Infertilitas dibedakan menjadi 2 yakni,
1. infertilitas primer : bila pasangan tersebut tidak pernah mengalami kehamilan sebelumnya (tidak ada riwayat kehamialn sebelumnya).
2. infertilitas sekunder : bila pasangan tersebut pernah mengalami kehamilan sebelumnya baik janin tersebut lahir hidup ataupun abortus (ada riwayat kehamilan).

Setiap wanita memiliki kemungkinan untuk hamil didalam 1 siklus menstruasinya yang disebut dengan fekundabilitas. Adapun kemungkinan setaip wanita untuk melahirkan bayi hidup dalam satu siklus menstruasinya disebut dengan fekunditas.

Setiap pasangan memiliki kesempatan untuk hamil dalam 1 tahun pertama perkawinan bila pasangan tersebut melakukan hubungan intercourse secara teratur dan tidak memakai alat kontrasepsi. Bilamana pada tahun pertama ini, pasangan tersebut belum mangalami kehamilan maka dapat dicurigai adanya masalah kesuburan baik dari pihak wanita ataupun pria atau yang biasa disebut dengan infertilitas.

Penyebab infertilitas pada kebanyakan pasangan infertil adalah,
1. Pada pria : karena factor semen
2. Pada wanita :
– Disfungsi ovulasi (faktor ovulasi)
– Faktor tuba seperti trauma, penyumbatan, adhesi paratubal ataupun
endometriosis.
– Faktor serviks : abnormalitas interaksi mukus-sperma.
– Jarang terjadi : Abnormalitas uterus, gangguan imunologik dan infeksi.

FAKTOR WANITA
1. Disfungsi Ovulasi / Kelainan Ovulasi
Salah satu etiologi tersering dari penyebab infertilitas pada wanita adalah adanya disfungsi ovulasi. Disfungsi ovulasi ini bisa diawali dengan adanya anovulasi (tidak terjadi ovulasi sama sekali) ataupun olioovulasi (ovulasi yang sedikit/jarang). Dysfungsi ovulasi ini lebih sering terjadi karena adanya gangguan dari factor hormonal wanita yakni tidak berimbangnya kadar estrogen dan progesterone dalam tubuh. Biasanya pada kasus anovulasi kadar estrogen dalam tubuh wanita tidak dapat mencapai puncak (mengalani kenaikan yang drastis) sehingga tidak memicu terjadinya LH surge dengan demikian tidak akan terjadi ovulasi.

Adapun diagnosis banding untuk kelainan ovulasi yakni,
– abnormalitas hipotalamus dan hipofisis.
– penyakit tyroid.
– penyakit adrenal.
– oligoovulasi hiperandrogenik.

Untuk memeriksa ada tidaknya disfungsi ovulasi dapat dilakukan dengan beberapa metode antara lain,
* Suhu badan basal
Pengukuran suhu tubuh yang dilakukan secara per oral pada pagi hari setelah bangun tidur ataupun sebelum makan dan minum. Post ovulasi, biasanya akan terjadi sekresi dari estrogen dan progesteron.Progesteron sendiri merupakan hormon thermogenik dimana sekresinya dapat meningkatkan temperature sekitar 0,5° F diatas suhu basal yakni 97-98°F. adanya selisih antara 2 fase dalam siklus menstruasi akan membentuk pola bifasik yangs elanjutnya dapat menjadi indikasi dari adanya ovulasi. Pada fase luteal akan terjdi peningkatan suhu yang berlangsung sekitar 10 hari.

* Kadar progesterone midluteal
Kadar prosteron >3 mg/ml dapat mengindikasikan terjadinya ovulasi. Pengukran kadar progesterone sebaiknya dilakukan pada fase midluteal dimana kadar progesterone itu paling tinggi (hari 21-21 pada siklus 28 hari).

* Monitoring LH
Dengan melihat ada tidaknya LH surge yang dapat mengidentifikasikan adanya ovulasi. Karena ovulasi terjadi terjadi 34-36 jam post LH surge terjadi dan kira-kira 10-12 jam setelah LH peak.

* Biopsi endometrium
Untuk melihar adanya ovulasi, pada biopsy endometrium biasanya akan ditemui gambaran endometrium fase sekresi.

* Monitoring Ultrasonografi
Dengan melihat perkembangan folikuler, dimana pada ovulasi ditandai denagn adanya berkurangnya ukuran folikel (21-23mm) dan adanya cairan bebas di cavum Douglas.

2. Faktor Tuba
Factor tuba yang dapat menyebabkan terjadinya infertilitas antara lain adanya kerusakan dan obstruksi pada tubafallopi yang biasanya disebabkan oleh PID, riwayat operasi tuba ataupun pelvis. Selain factor tuba, factor peritonel seperti adhesi peritubal dan periovarium juga dapat menyebabkan infertilitas. Pemeriksaan untuk melihat adanya kelainan pada tuba dapat dilakukan denagn HSG (histerosalpingografi) yang dilakukan pada siklus hari ke 6-11 post menstruasi untuk mengurangi terjadinya infeksi. HSG juga dapat dilakukan sebelum terjadinya ovulasi. Hal ini untuk mencegah kemungkinan adanya radiasi janin. Gold standart untuk penegakan diagnosisnya adalah laparoskopi. Patensi tuba dapat dikonfirmasi dengan laparoskopi dengan mengamati keluarnya zat kontras (methylen blue/indigo carmine).

3. Faktor Servikal
Faktor servikal lebih ditekankan pada mucus servikal. Dimana secara fisiologis, pada fase ovulasi mucus servikal akan lebih tipis daripada saat fase menstruasi. Penipisan ukus ini dimaksudkan agar sperma dapat dengan mudah membuahi ovum. Untuk menilai kualitas mucus ini dapat dilakukan dengan TPS (Tes Pasca Senggama). Selain untuk menilai mucus, TPS dapat juga digunakan untuk menilai jumlah sperma motil dalam saluran repro wanita. TPS dilakukan sesaat sebelum terjadinya ovulasi. Mucus dievaluasi secara tepat untuk spinnbarkeit, ferning dan juga kejernihanya. Mucus normal memiliki starching 8-10 cm ketika ditarik dari serviks. Pada pemeriksaan dengan mikroskop tampak gambaran highly ferning pattern.

4. Faktor uterus
Adanya abnormalitas pada uterus paling sering menyebabkan abortus pada kehamilan. Hal ini dapat disebabkan zygote tidak cukup kuat melekat pada uterus oleh karena pada uterus mengalami kelainan seperti misalnya adanya mioma uteri. Miomektomi juga dapat meyebabakan infertilitas, bahkan presentasenya lebih besar daripada mioma itu sendiri, karena biasanya post operasi akan terjadi perlekatan .

Adanya malformasi kaongenital seperti uterus unikornis, septum uteri dan uterus diselpis dapat menyebabkan infertilitas oleh karena sering menyebabkan abortus spontan pada kehamilan.

Sindroma Asherman’s (adhesi intrauteri) juga dapat menyebabkan terjadinya infertilitas karena dapat mengganggu implantasi dari zygote.

*catatan health Study Club (HSC 05)_ blok reproduksi

Sumber:
http://kholilahpunya.wordpress.com/2009/06/15/infertilitas/

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: