jump to navigation

Kesalahan yang Bisa Menghapus Pahala Shalat Jumat (3) September 4, 2009

Posted by haniki in ilmu.
Tags: , , , ,
trackback

Bagian ketiga : Dua orang laki-laki yang berbincang-bincang ketika imam sedang barkhutbah

Penulis: Syaikh Abu ‘Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Salman
Alqaulul Mubiin fi akhta’il Mushallin

Keduanyapun terjatuh kedalam yang terdapat dalam hafits Abu Hurairah: “Jika engkau berkata kepada temanmu pada hari jumat: ‘Diamlah,’ ketika imam sedang khutbah, maka engkau telah melakukan prbuatan yang sia-sia.” (Al Hadits)
Jadi berbicara ketika imam sedang berkhutbah akan membatalkan amalan dan memutuskan pahala.

An Nadhar bin Syumail berkata: “Makna engkau telah berbuat sia-sia adalah engkau tidak berhasil mendapatkan pahala. Ada yang mengatakan, keutamaan jumatmu batal dan ada yang mengatakan jumatmu berubah menjadi shalat dhuhur.” [1]

Makna yang pertama dan kedua dikuatkan dengan hadits:
1. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dia berkata: “Tatkala Rasulullah khutbah pada hari jumat, tiba-tiba Abu Dzar bertanya kepada Ubay bin Ka’ab: “Kapan surat ini diturunkan?” maka Ubay tidak menjawabnya. Tatkala telah menyelesaikan shalat, Ubay berkata kepada Abu Dzar: “Tidak ada pahala pada shalatmu kecuali engkau telah menyia-nyiakannya.” Lalu Abu dzar mendatangi Nabi dan menyebutkan perkataan Ubay kepada beliau. Beliau berkata: “Ubay benar”[2]

2. Dari Abdullah bin Amr dari rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam beliau bersabda: “Ada tiga orang mengerjakan shalat jumat. Seorang datang sambil melakukan sia-sia dan itu menjadi bagiannya dari shalat jumat itu. Seorang lagi datang sambil berdo’a, maka dia adalah orang yang berdoa kepada Allah. Jika Allah berkehendak maka Dia memberi dan jika Dia berkehendak Dia menahan pemberian. Seorang yang lain lagi mengadirinya dengan diam dan tidak melangkahi leher seorang muslim (untuk meminta jalan), serta tidak menyakiti seorangpun, maka ibadahnya itu menjadi penghapus dosa sampai jumat berikutnya ditambah tiga hari. Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan satu kebaikan maka dia mendapat sepuluh kebaikan.”[3]
3. Dari Ali bin Abu Thalib radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mendekat keposisi imam lalu ia diam dan mendengar dan tidak berbuat sia-sia maka ia mendapatkan dua bagian pahala. Barangsiapa yang menjauh dari posisinya, lalu ia mendengar dan diam serta tidak berbuat sia-sia, maka ia mendapatkan satu bagian pahala. Barangsiapa yang mendekat posisi imam, lalu ia berbuat sia-sia dan tidak diam serta tidak mendengar, maka dai mendapatkan dua bagian dosa. Barangsiapa yang menjauh dari posisinya, lalu ia berbuat sia-sia dan tidak diam serta tidak mendengar, maka ia mendapatkan satu bagian dosa. Dan barangsiapa berkata: “Diamlah (menyuruh orang lain agar tidak bicara),” maka sesungguhnya ia telah berbicara, tidak ada shalat jumat baginya.”[4] Dalam satu riwayat: “Barangsiapa yang berkata terhadap temannya pada hari jumat: “Diamlah,” maka sesungguhnya ia telah berbuat sia-sia. Barangsiapa yang berbuat sia-sia, maka tidak ada keutamaan sedikitpun dalam jumatnya itu.”[5]
Dalam satu riwayat dari seorang sahabat Rasululah:

“Barangsiapa yang berbicara pada hari jumat ketika imam sedang khutbah, maka pahala dari jumat tersebut sebesar genggaman debu.”[6]

Sedangkan yang menguatkan makna yang ketiga: Dari Abdullah bin Amr secara marfu’: “Barangsiapa yang berbuat sia-sia atau melangkahi (leher saudaranya), maka jumat itu menjadi Dhuhur baginya.”[7] Telah berkata Ibnu Wahab salah seorang perawinya: “Maknanya, shalat tersebut mencukuoi dirinya tetapi ia tidak mendapatkan keutamaan shalat jumat.”[8]

Saya berkata: Dari tambahan ini jelaslah, bahwa sesungguhnya tiga pendapat yang telah lalu maknanya saling berdekatan dan tidak ada perselisihan diantara pendapat tersebut.

Larangan berbicara itu diambil dari hadits Abu hurairah yang menunjukkan kesesuaian. Karena jika perkataan: “Diamlah,” yang digolongkan sebagai perkataan amar ma’ruf, dinamakan sebagai perbuatan sia-sia, terlebih lagi pembicaraan lainnya lebih tepat dinamakan sebagai perbuatan sia-sia lagi.

Terdapat dalam Musnad Ahmad dari riwayat Al A’raj, dari Abu Hurairah pada akhir hadits setelah perkataannya: “Sesungguhnya engkau telah berbuat sia-sia.” Maknanya: “Engkau wajib meluruskan dirimu sendiri.”

Berdasarkan hal tersebut menunjukkan tentang terlarangnya semua jenis pembicaraan ketika khutbah. Sedangkan jumhur ulama mengatakan demikian itu untuk orang yang mendengarnya. Seperti itu juga, hukumnya orang yang tidak mendengarkan menurut kebanyakan ulama.[9]

Ibnu Abdil Barr menyampaikan adanya ijma’ tentang wajibnya mendengar bagi orang yang mendengar khutbah, kecuali minoritas dari kalangan tabi’in. Dia berkata:

“Yang saya ketahui tidak ada perselisihan diantara ahli fiqih di berbagai negeri tentang wajibnya diam karena sedang ada khutbah atas orang yang mendengarnya pada waktu jumat. Serta sesungguhnya orang yang mendengarnya dari kalangan orang-orang yang bodoh tidak boleh berkata: “Diamlah,” atau ucapan yang sejenis ini, ketika imam sedang khutbah berdasarkan hadits ini. Telah diriwayatkan dari Asy Sya’bi dan minorotas manusia bahwa sesunguhnya mereka berbincang-bincang kecuali ketika imam membaca Al qur’an dalam khutbah pada waktu khusus. Dia berkata: Perbuatan mereka yang demikian itu menurut ahli ilmu tertlak. Sedangkan keadaan mereka yang terbaik dikatakan: “Hadits itu belum sampai kepada mereka.”[10]

Al Hafidz menganggap asing pendapat tersebut, dengan perkataannya: “Saya berkata: Dalam masalah ini Asy syafi’i mempunyai dua pendapat yang mahsyur.”

Inilah ucapan Imam asy syafi’i yang tercantum dalam Al-Um:
“Setiap orang yang menghadiri khutbah, ia lebih saya sukai mendengarkan dan diam, serta tidak berbincang-bincang sejak saat imam berkhutbah sampai selesai dari dua khutbahnya. Serta tidak mengapa dia itu berbicara ketika imam itu diatas mimbar dan muadzin sedang mengumandangkan adzan dan setelah selesai adzan sebelum imam berkata. Jika imam memulai berbicara, maka saya tidak menyukai orang tersebut berbincang-bincang sehingga imam menyelesaikan khutbahnya yang terakhir, maka tidak mengapa orang itu berbincang-bincang sehingga imam itu bertakbir. Adapun adab yang paling bagus, orang itu tidak berbicara sejak imam mulai berbicara sehingga menyelesikan shalatnya. Tetapi jika orang itu berbicara dan imam sedang khutbah, maka saya tidak menyukai dia dalam pembicaraannya tersebut meski dia tidak wajib mengulangi shalatnya.”[11]

Saya berkata: “Dia juga tidak selamat dari dosa, karena hadits-hadits yang lalu. Itulah salah satu pendapat yang kuat dari dua pendapat ahli ilmu. Demikian itu dikatakan oleh Malik, al Auza’i, Abu Yusuf, Muhammad bin Ahmad.”[12]

[Dikutip dari : Koreksi atas kekeliruan praktek ibadah shalat oleh Syaikh Abu ‘Ubaidah masyhur bin Hasan bin Salman. Penerbit Maktabah Salafy Press, halaman 434 – 438]

Download kajian ini

Foot Note:
[1]. Fathul Bari (2/414).

[2]. Dikeluarkan oleh Ath Thayalisi di dalam Al Musnad nomer (2365), Al Baihaqi di dalam As Sunanul Kubra (3/220), Ath Thahawi di dalam Syarah Ma’ni al Atsar (1/367), Al Bazzaar sebagaimana di dalam Al Majma’ (2/185) dan sanadnya hasan. Dan baginya syahid dari Ubay bin Ka’ab, dikeluarkan oleh Ibnu Majah di dalam As Sunan nomer (1111), Abdullah bin Ahmad di dalam Zawaid Al Musnad (5/143) sanadnya jayyid. Al Mundziri berkata di dalam At Targhib wat Tarhib (1/257): “Sanadnya hasan.” Berkata Al Bushiri di dalam Al Mishbah Az Zujaajah (lam77/alif): “sanad ini perawinya tsiqah.” Aku berkata: “Dishahihkan untuk syawahidnya, diantaranya hadits jabir, ada pada Abi Ya’la di dalam Al Musnad (3/335) nomer (1799), Ibnu Hibban nomer (577-mawarid), dan Said bin Manshur sebagaimana di dalam zaadul Ma’ad (1/431), Ath Thabrani di dalam Al ausath dan Al Kabir, para perawi abu Ya’la tsiqah sebagaimana di dalam Al Majma’ (2/185). Dan hadits Sa’ad bin Abi Waqqash, ada pada Abu ya’la di dalam al Musnad (2/66) nomer (708), Al Bazaar dan didalamnya Majalid bin Said sebagaimana di dalam Al majma’ (2/185) dan hadits Abdullah bin Mas’ud ada pada Ath thabrani di dalam Al Kabir (9/357) nomer (954).

[3]. Dikeluarkan oleh Ahmad di dalam Al Musnad (2/214), Abu Dawud di dalam As Sunan nomer (1113) dan sanadnya hasan.

[4]. Dikeluarkan oleh Ahmad di dalam Al Musnad (1/93) dan sanadnya lemah karena kemajhulan maula wanita Atha’ Al khurasaani.

[5]. Dikeluarkan oleh Abu dawud di dalam As Sunan nomer (1051), Al Baihaqi di dalam As sunanul Kubra (3/320) dan didalamnya ada seorang wanita atha’ sedangkan dia ini majhul.

[6]. Dikeluarkan oleh Ad Daulabi di dalam Al Kuna wal Asma’ (1/99).

[7]. Dikeluarkan oleh Al Khuzaimah di dalam Ash Shahih nomer (1810), abu Dawud di dalam As Sunan nomer (3470) dan sanadnya shahih.

[8]. Lihat Fathul Bari (2/414).

[9]. Fathul Baari (2/415), At Ta’liq Al Numajid (1/139) oleh Laknawi.

[10]. Rujukan yang lalu.

[11]. Al Um (1/233).

[12]. Ad Dinul Khalish (4/140). Dan lihat Ashalul Madarik (1/324-325), Tafsir al Qurthubi (18/116), At Ta’liq al Mumajid (1/139), Tharhu At Tastrib (3/201), Al furu’ (3/113) Syarah as Si’ayah (4/244), Al Majmu’ (4/588).

Sumber:
http://ashthy.wordpress.com/2007/05/10/sejumlah-kesalahan-yang-bisa-menghapus-pahala-shalat-jumat-bagian-ketiga/

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: