jump to navigation

Kesalahan yang Bisa Menghapus Pahala Shalat Jumat (1) September 4, 2009

Posted by haniki in ilmu.
Tags: , , , ,
trackback

Penulis : Asy Syaikh Abu ‘Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Salman

Pertama :
Dari Aus bin Aus Radhiyallallahu’anhu, dia berkata : Saya mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :
“Barangsiapa yang berjima’ dengan istrinya pada hari jumat kemudian ia mandi dan segera berjalan menuju masjid diawal waktu, duduk di dekat imam dan mendengarkan (khutbah) tanpa melakukan perbuatan yang sia-sia, maka setiap satu langkahnya mendapatkan pahala puasa dan pahala shalat malam selama setahun.”[1]

Kedua:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dia berkata : Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :
“Pada hari jumat para malaikat berdiri di pintu-pintu masjid sambil mencatat orang yang pertama datang. Perumpamaan orang yang datang dengan di awal waktu seperti orang yang menghadiahkan onta yang gemuk, (yang berikutnya) seperti orang yang menghadiahkan sapi, (yang berikutnya) seperti orang yang menghadiahkan kambing kibas, kemudian ayam betina, kemudian sebutir telur. Jika Imam telah datang maka para malaikat menutup lembaran-lembaran mereka, kemudian mereka mendengarkan dzikir.”[2]

Ketiga :
Dari Salman al Farisi radhiyallahu’anhu dia berkata : Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :
“Barangsiapa yang mandi pada hari jumat dan bersuci semampunya, kemudian memakai wewangian. Kemudian dia berangkat dan tidak memisahkan antara dua orang. Lalu dia melakukan shalat yang telah ditetapkan. Kemudian jika imam itu keluar dia diam, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya antara jumat tersebut dengan jumat berikutnya.”[3]

Keempat :
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :
“Jika engkau berkata kepada kawanmu pada hari jumat : “Diam!!” dalam keadaan imam sedang berkhutbah, sesungguhnya engkau telah berbuat sia-sia.”[4]
Dalam satu riwayat :
“Barangsiapa yang berbuat sia-sia maka tidak ada jumat baginya.”[5]

Hadits-hadits ini memberikan faedah bahwa shalat jumat mempunyai pahala yang besar. Jika seseorang melakukan amalan ini dengan memenuhi persyaratan, adab dan sunnah-sunnahnya, maka dia akan memperoleh :

A. setiap langkah kakinya dari rumah sampai ke masjid mendapat pahala seperti pahala puasa dan pahala shalat malam selama satu tahun dengan sempurna.
B. Dia akan mendapat pahala spt orang yang memberikan badanah[6] yaitu seekor onta baik jantan atau betina, atau sapi atau kibas (kambing jantan). Dalam sebagian riwayat Nabi memberikan sifat yang bertanduk, kerena hal itu lebih bagus bentuknya dan lebih sempurna. Atau ayam jantan atau sebutir telur, sesuai dengan waktu bergegasnya mereka menuju masjid.
C. Dosa-dosa yang dia lakukan sampai jumat berikutnya diampuni ditambah tiga hari, sebagaimana yang terdapat dalam sebagian riwayat.
D. Malaikat selain malaikat yang menjaga mereka, menulis pahala shalat jumat dalam lembaran-lembaran mereka.

Dewasa ini banyak manusia yang tidak bisa meraih pahala yang agung dan keutamaan yang besar ini. Mungkin disebabkan mereka malas, bodoh dan jauh dari sunnah Nabi ‘alaihis shalatu wasalam. Gambaran yang demikian ini terdapat dalam keadaan sebagai berikut :

Satu :
Tidak bersegera mengerjakan shalat jumat.
Disunnahkan bersegera shalat jumat, demikian yang terdapat pada hadits pertama dan kedua yang lalu. Hal itu terkandung dalam faidah hadits yang ketiga juga. Disebutkan didalamnya : “Maka dia melakukan shalat yang ditetapkan padanya, kemudian jika imam datang, dia diam…”

Ini adalah kebiasaan salafus shaleh, mungkin dengan dasar itu, Ibnu Umar melamakan shalat sebelum Jumat adalah shalat sunnah mutlak. Inilah yang lebih utama bagi orang yang mendatangi Shalat jumat, agar dia menyibukkan shalat sampai imam datang.[7]

Hadits yang pertama menjelaskan : Sesungguhnya bergegas menuju kemasjid adalah syarat untuk bisa meraih pahala jumat yang sempurna. Yaitu setiap langkah yang dia langkahkan mendapatkan pahala seperti pahala puasa dan pahala shalat malam selama setahun.

Bersegera manuju masjid untuk shalat jumat dilakukan dengan berjalan kaki. Karena itu An Nasa’i. Al Baihaqi dan selain keduanya menetapkan Bab Keutamaan Berjalan untuk Shalat Jumat. Demikian juga bahwa berjalan itu lebih baik daripada meneiki kendaraan, terlebih lagi untuk shalat jumat dan dua hari raya.

Imam Ahmad berkata sebagaimana yang terdapat dalam Masail ibnuhu no. (472) :
“Mereka disunnahkan berjalan kaki menuju shalat dua hari raya dan shalat jumat. Sesungguhnya orang yang bergegas menuju shalat jumat disunnahkan mendekat keposisi imam. Demikian yang telah tetap dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda :
“Hadirilah dzikir itu dan dekatlah keposisi imam. Sesungguhnya seseorang yang senantiasa menjauhi (dari posisi imam), sehingga ia di akhirkan di surga meskipun dia memasukinya.”[8]

Bersegera mengerjakan shalat jumat adalah kebiasaan salafus shalih – semoga Allah meridhai mereka – sehingga Abu Syamah berkata bahwa dia melihat pada generasi pertama ketika telah terbit fajar, jalan-jalan dipadati manusia. Mereka berjalan dengan membawa lampu dan berdesak-desakan menuju masjid jami’ seperti saat hari raya sampai kebiasaan yang demikian itu terhapus. Dikatakan, bid’ah pertama yang terjadi di dalam Islam adalah hilangnya kebiasaan bersegera menuju masjid jami’.”[9]

Al Imam Malik mengingkari orang yang bergegas menuju Shalat Jumat diawal siang, namun dibantah oleh Ibnul Qayim dengan perkataan : “Asy Syafi’i berkata : “kalau seseorang pergi untuk shalat jumat setelah fajar dan sebelum matahari terbit, yang demikian itu adalah baik.”

Al Atsram berkata : Ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hambal bahwa Malik bin Anas berkata : “Tidak harus berangkat bergegas-gegas diwaktu pagi pada hari jumat ke masjid.” Maka dia berkata : “Perkataan ini menyelisihi hadits Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam.”[10]

Jadi disunnahkan berangkat bergegas-gegas di awal siang untuk shalat jumat. Maka saat yang tetap dalam Hadits Nabi tentang perkara ini adalah sejak awal siang. Sedangkan yang dimaksud dengan waktu tersebut adalah waktu-waktu dengan perhitungan bintang. Dengan dasar itu, barangsiapa yang datang diakhir waktu dan yang datang diawal waktu, keduanya sama-sama mendapatkan onta yang gemuk, atau sapi atau kambing betina. Tetapi onta yang gemuk untuk orang yang datang diawal waktu lebih sempurna daripada onta yang gemuk untuk orang yang datang diakhir-akhir waktu. Sedangkan onta yang gemuk untuk orang yang datang dipertengahan waktu, ontanya itu sedang. Wallahu a’lam.”[11]

Para Salafus shalih mencela diri mereka ketika tidak berangkat pagi-pagi atau mereka lalai berangkat lebih pagi.

Ibnu Mas’ud masuk masjid di waktu pagi-pagi, lalu dia melihat tiga orang telah mendahului kedatangannya. Maka dia bersedih hati dan ia berkata : “Saya ini yang keempat dari empat orang dan yang keempat dari empat orang itu tidak jauh.”[12]

Inilah keadaan Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, dia telah mencela dirinya dikarenakan didahului oleh tiga orang yang datang lebih pagi. Lalu bagaimana dengan kaum kita, dimana mereka itu tidak datang kecuali imam dalam keadaan di atas mimbar selain selain orang-orang yang dirahmati Allah. Bahkan sebagian mereka datang bersamaan dengan shalat atau sesaat sebelum shalat.[13] Sesungguhnya Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam mengkhabarkan :
“Jika Imam telah datang, maka para malaikat menutup lembaran-lembaran mereka dan ikut mendengarkan dzikir. “Dalam riwayat muslim : “jika Imam telah duduk, maka para malaikat menutup lembaran-lembaran dan mereka datang untuk mendengar dzikir.”

Seakan-akan saat menutupnya lembaran-lembaran itu tatkala awal keluarnya imam itu dan akhir menutupnya ketika ia duduk di atas mimbar. Dan itulah awal mereka mendengarkan dzikir. Sedangkan yang dimaksud dzikir adalah masihat-nasihat dan lainnya yang terkandung dalam khutbah.

Yang dimaksud menutup lembaran adalah menutup lembaran-lembaran tentang catatan keutamaan yang berkaitan dengan keutamaan datang dengan bergegas-gegas untuk shalat jumat bukan kepada yang lainnya seperti mendengar khutbah, mendapati shalat, dzikir, doa, khusyu, dan yang sejenis itu. Kerena sesungguhnya kedua malaikat penjaga manusia itu telah menulisnya dengan pasti.[14]

Foot Note :

[1]. Dikeluarkan oleh Ahmad di dalam Al Musnad (4/104), Abu Dawud di dalam As Sunan nomer (345), An Nasai di dalam Aj Mujtaba (3/97), At Turmudzi di dalam Al Jami’ nomer (496), Ibnu Hibban di dalam Ash Shahih nomer (559), Ibnu Khuzaimah di dalam Ash Shahih nomer (1758), Al Baghawi dalam Syarhus sunnah nomer (1064) (1065), Al Marwazi di dalam Al Jum’ah wa Fadhluha nomer (51). Hadits ini shahih.

[2]. Dikeluarkan Oleh Al Bukhari di dalam Ash Shahih nomer (929) (3211), Muslim di dalam Ash Shahih nomer (850) dan selain keduanya.

[3]. Dikeluarkan Oleh Al Bukhari di dalam Ash Shahih nomer (883) (910), Ahmad di dalam Al Musnad (5/438, 440), ad Darimi di dalam As Sunan (1/362) dan selain mereka.

[4]. Dikeluarkan Oleh Al Bukhari di dalam Ash Shahih nomer (934), Muslim di dalam Ash Shahih nomer (85) dan selain keduanya.

[5].

[6]. Telah terdapat riwayat yang menjelaskan di dalam riwayat Ibnu Juraij : Baginya pahala seperti onta besarnya. “Ada yang mengatakan yang dimaksud dengan pahala andai dijasadkan pahala itu akan sebesar onta. Namun bukan demikian yang dimaksudkan. Yang benar bahwa makna riwayat Ibnu Juraij mencocoki makna riwayat-riwayat yang lain,, yang dimaksud dengannya ialah penjelasan tentang keutamaan bergegas-gegas menuju jumat dan perbuatan itu menyamai kedudukan orang yang mengorbankan seekor onta…dst. wallahu A’lam. Ini dikatakan oleh Asy Syaikh Ibnu Baz dalam ta’liqnya atas Fathul Bari (2/366).

[7]. Zadul Ma’ad (1/436).

[8]. Dikeluarkan oleh Abu dawud di dalam as Sunan nomer (1198), Al Hakim di dalam al Mustadrak (1/289), Al Baihaqi di dalam As Sunanul Kubra (3/238), Ahmad di dalam Al Musnad nomer (5/11) dan hadits ini shahih, lihat As Silsilah Ash Shahihah nomer (365).

[9]. Al Baa’its ala Inkaril Bida’ wal Hawadits (hal 97).

[10]. Zadul Ma’ad (1/403-49/07), Lihat Fathul Bari (2/369), Al Majmu’ (4/541).

[11]. Lihat Fathul Bari (2/3683690), Al-Majmu’ (4/541), Ad Dinul Khalish (4/1380).

[12]. Dikeluarkan oleh Ibnu Majah di dalam As Sunan nomer (1094), Al Baihaqi di dalam Syu’abul Iman sebagaimana di dalam Zadul Ma’ad (1/4080), Ath Thabrani di dalam Al Mu’jamul kabir (10/96) nomer (10013), Ibnu Abi ‘Ashim seperti di dalam Mishbaah Az Zujajah (1/364) dan sanadnya hasan.

[13]. Termasuk hal yang dapat mendatangkan faedah saya peringatkan, bahwa khutbah Jumat itu wajib berdasarkan pendapat yang shahih dari dua pendapat ahli Ilmu, sebagai perkara yang menyelisihi asy Syaukani dan diikuti oleh Shiddiq hasan khan. Lihat penjelasan yang lebih rinci masalah ini di dalam Tamamul Minnah (hal 332), Al Ajwibah An Nafi’ah (hal 52-54) dan atasnya : “Barangsiapa yang tidak menghadirinya atau terlambat darinya, maka akan mendapatkan dosa. Wal’iyyadzu billah.”

[14]. Fathul bari (2/367-368).

[Dikutip dari buku “Koreksi Atas Kekeliruan Praktek Ibadah Shalat” karya Syaikh Abu ‘Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Salman, Penerbit Maktabah Salafy Press, Halaman : 418 – 424, dengan beberapa pengeditan oleh Ahmad]

Bersambung, Insya Allah

Sumber:

http://ashthy.wordpress.com/2007/04/14/105/

About these ads

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: